Setiap orang selalu memimpikan sebuah pernikahan yang harmonis, langgeng, dan penuh romantisme. Tentu kita membutuhkan persiapan dan modal yang tidak sedikit untuk mewujudkannya, baik modal secara materi maupun non-materi. Modal pernikahan secara materi merupakan salah satu hal mutlak yang harus dipersiapan dan semua orang pun sudah memahami. Namun, bagaimana dengan modal non-materi? Seperti apakah wujudnya? Apakah Cinta?

Ya. Cinta adalah salah satu modal non-materi yang diperlukan untuk mewujudkan pernikahan yang harmonis dan langgeng. Tapi, sayangnya, modal cinta saja tidak cukup untuk mewujudkan impian tersebut. Buktinya, banyak pasangan yang membina awal rumah tangga mereka dengan saling mencintai namun akhirnya kandas di tengah jalan karena terbentur berbagai permasalahan. Bahkan tidak sedikit juga yang harus memutuskan untuk bercerai.

Kali ini Pernak-pernikahanmu akan membahas modal non-materi yang dibutuhkan untuk mewujudkan pernikahan yang langgeng dan harmonis.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan merupakan akar sebuah lembaga keluarga. Dalam prosesi akad nikah, seorang laki-laki sedang berjanji mengambil alih tanggung jawab seorang ayah terhadap anak perempuannya. Tentunya tanggung jawab ini melingkupi segala aspek termasuk kebahagiaan mempelai wanita.  Janji tersebut tidak hanya kepada orang tua, wali nikah, maupun pasangan, melainkan juga kepada Allah SWT. Seorang psikolog klinis dewasa di bidang relationship, Pingkan Cynthia Belinda Rumondor, S.Psi, M.Psi., menganalogikan pernikahan sebagai peresmian dibangunnya suatu lembaga perusahaan. Seperti perusahaan pada umumnya,  lembaga ini perlu memiliki visi misi terlebih dahulu. Untuk mewujudkan visi misi tersebut tentu membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Visi-misi pernikahan dapat dibangun melalui diskusi calon mempelai pria dan wanita di awal rencana menikah. Diskusi tersebut dapat dibangun dengan mengembangkan pertanyaan mengenai hal-hal berikut ini :

  1. Makna pernikahan
  2. Konsep pernikahan yang ingin dibangun
  3. Tujuan dan target pernikahan, dapat dibuat secara berkala seperti 5 tahun yang akan datang, 10 tahun, dan seterusnya
  4. Rencana memiliki anak mengenai waktu, jumlah, dan pendidikannya
  5. Kondisi dan relasi dengan keluarga besar, sejauh mana keluarga besar bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga
  6. Kebiasaan yang ingin dijalankan bersama sebagai kekhasan dalam keluarga
  7. Pengaturan keuangan
  8. Setelah menikah, akan tinggal di mana


Jika melihat daftar pertanyaan tersebut, bisa kita pahami bahwa visi misi pernikahan ternyata tidak cukup dibuat hanya dengan kata cinta atau perasaan saling mencintai saja, ya. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa cinta dan saling mencintai tetap merupakan salah satu hal yang sangat diperlukan dalam menciptakan rumah tangga yang harmonis dan langgeng. Selain cinta, kematangan emosi, komunikasi efektif, dan manajemen finansial juga perlu dipersiapkan sebagai modal menikah.


Kematangan Emosi

Dalam budaya Timur, khususnya Indonesia, pernikahan bukan hanya menyatukan seorang pria dan wanita dalam ikatan suci, melainkan juga dua pihak keluarga besar. Penyatuan banyak orang dengan pola pikir yang beragam pasti akan selalu memunculkan berbagai problema. Perbedaan kebiasaan dan budaya dapat memicu kekesalan. Bermacam momen menyebalkan, mengecewakan, dan memancing kemarahan akan hadir ibarat kerikil yang kita temui dalam sebuah pendakian gunung. Jalan berkelok dan terjal dalam kehidupan berumah tangga selalu hadir menjadi ujian. Tidak jarang masalah demi masalah seperti antara suami istri, menantu mertua, atau ipar hadir mewarnai pernikahan. Nyatanya, pernikahan tidak selalu tentang yang indah-indah saja. Kata-kata cinta tidak cukup untuk menawar berbagai permasalahan tersebut. Justru, kematangan emosilah yang  lebih kita butuhkan. Kematangan emosi akan sangat membantu seseorang untuk mengelola perasaannya sendiri ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Pun, kematangan emosi akan mengarahkan seseorang untuk mengambil tindakan yang terbaik atau memutuskan sesuatu dengan bijaksana. Namun, jika menghadapi masalah-masalah tersebut tanpa emosi yang matang maka perpecahan dan perpisahan dapat mengancam pernikahan. Itulah mengapa kematangan emosi sangat dibutuhkan sebagai modal menikah.

Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif juga sangat dibutuhkan sebagai modal menikah. Komunikasi yang efektif dapat membuat pasangan suami istri saling mengerti dan memahami. Keterampilan komunikasi dapat terus dilatih dengan saling mengungkapkan dan mendengarkan.

Kemampuan Manajemen Finansial 

Selain kematangan emosi dan komunikasi efektif, kemampuan manajemen finansial atau keuangan juga dibutuhkan sebagai modal menikah. Modal keuangan sebuah pernikahan tidak hanya terkait dengan biaya akad dan resepsi saja. Justru, kemampuan untuk mengelola keuangan setelah menikahlah yang jauh lebih penting untuk dimiliki. Khususnya untuk pasangan yang terlahir bukan sebagai anak sultan yang segalanya serba ada, keuangan rumah tangga harus didiskusikan bersama.  Misalnya mengenai jumlah pendapatan perbulan, pos-pos pengalokasian uang, tabungan masa depan, sedekah, kesepakatan-kesepakatan, dll. Suami istri harus saling jujur, percaya dan terbuka dalam mengelola keuangan bersama sehingga tidak menimbulkan curiga dan kesalahpahaman. Masalah keuangan atau kurangnya kemampuan mengelola keuangan dengan baik juga merupakan salah satu hal yang mampu mengancam utuhnya pernikahan.

Pernikahan impian yang harmonis dan langgeng ternyata membutuhkan modal yang cukup mahal, tidak cukup hanya dengan modal uang, apalagi cinta. Kita juga membutuhkan visi-misi, kematangan emosi, komunikasi efektif, dan kemampuan manajemen finansial sebagai modal pernikahan. Semoga kita mampu memiliki modal-modal tersebut sehingga dapat mewujudkan pernikahan harmonis dan langgeng seperti yang kita impikan.